2014-12-25

Bugis Makassar - Dulu saya tinggal di Desa terpencil, nama saya Beddullahi (Biasa di panggil La Beddu'). Saya adalah pemudah desa yang bisa dibilang gante-ganteng sedikit, dan saya adalah keturunannya Janggo Pattiro yang ke-27. Di Desa saya ada seorang cewe yang sangat cantik jelita, seperti bidadari yang turun dari khayangan. cewek itu anaknya pak Desa (Lurah). Cewek itu namanya Fatmawati Jimpe Yaseyawa (Fatimah nama panggilan).

Setiap kali pemuda desa mendekatinya namun tidak ada yang diterimanya. Saat saya melihat Si Fatimah, Jantung saya berdebar kencang, apalagi kalau saya melihatnya bersama cowok lain. Hati saya rasanya sakit sekali. Setiap kali saya mencoba mendekatinya, dia selalu menjauh dari saya.


Entah apa alasannya? Padahal saya orangnya tidak begitu jelek dan tidak miskin pula. Bayangkan saya punya 4 ekor sapi, 2 ekor sapi jantang 1 Jareppa dan 1 lagi Panruku, dan 2 sapi betina 1 coko dan 1-nya lagi Suranga, jadi saya tidak begitu miskin. kalau dari tampan kebanyakan orang bilang kalau saya ini mirip Si Embah Urip, jadi muka saya bisa di bilang kategori Artis, ya... ganteng dong!

Tapi kenapa si Fattimah tidak menerima saya sebagai kekasihnya? Suatu ketika saya pulang dari sawah dan langsung masuk ke rumah tiba-tiba saya mendengar ambo'ku (bapak saya) dan Indo'ku (Ibu saya) bercerita tentang soarang yang jago matra guna, orang itu masih nenek saya (saudara dengan ayah ibu saya) yang bernama Petta Soko Binti Kalla (Keturunan ke- 25 Janggo Pattiro).

Mendengar percakapan itu saya langsung berfikir untuk berguru kepadanya tentang mantra pengikat cewek untuk menarik hati Si Fatimah. Keesokan harinya saya langsung berangkat ke rumah Petta Soko Binti Kalla, sesampai dirumah saya dipersilahkan masuk oleh istrinya yang bernama Sitti Marello Santi binti Tombong Kasumba Makkau. Saya pun masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu Petta Soko Binti Kalla pulang dari kebun. 3 jam lamanya saya menunggu akhirnya Petta Kalla pun datang dari kebun.

Kemudian saya berbincang bincang dengan Petta Soko tentang maksud kedatangan saya.
  • "Etta engka akkattai, maelo'ka naseng Makka kutana, de' ta rapi-raipi'ki Pa' mana'na Puang'ku Janggo Pattiro riolo ianaro rampe-rempe' makkunraie, nasaba engka ana'dara ku cinnai?" Saya bertanya kepadanya.
  • "Ba'a naseng ana'. naekia de' na sembarang ri appakeangi!" Petta Soko menjawab
  • "Tulungnga naseng Etta, nasaba parelluka kasi'!" Saya kembali membujuk
  • "Narekko makkui itu pale ana', enka naseng paccera'na yanaritu seddi manu bakka mappakae tarana, seddito manu cippaga pitu bola na kaja." Petta Soko memberi syarat
  • "Iye Etta, usappara'pi naseng, ku parellui ukajapi pitu wanua massappa." kata saya
  • "Sappa'ni riolo nappa rewe komai sibawa iyaro manu'e ri wenninna juma'e!" Kata Petta Soko
  • "Massime'na Pale Etta, Assalamu alaaiku!" Saya pamit pulang
  • "Waalaikum Mussalam." Petta Soko mempersilahkan
Saya pun pulang dan mencari ayam dua ekor yang langkah sebagai persyaratan yang diberikan oleh Petta Soko.Selama tiga hari saya mencari akhirnya saya mendapatkan. Hari kamis pun tiba, saya bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Petta Soko untuk belajar mantra pengikat cewek sebagaiman yang telah diberitahukan oleh Petta Soko untuk datak pada malam jum'at. Kamis sore sekitar pukul 17.00 WITA saya berangkat dan sampainya pas waktu magrib. Malam jum'at pun tiba, saya dipanggil oleh Petta Soko masuk ke kamarnya untuk dimandikan dengan kembang tujuh rupa sebelum belajar mantra tersebut. Setelah mandi saya kemudian berpakaian dan duduk di depan Petta Soko yang sedang membelai bulu ayam tadi yang saya bawa. Beberapa menit kemudian Petta Soko menyuruhku untuk mengucapkan dua kali kalimat syahadat 3 x.
"Ashaduanlailaha Illallah Wa Ashaduanna Muhammadan Rasulullah." Dalam hati
Peta Soko kemudia melafalkan bacaan mantra (Rampe-Rampe) itu dengan suara pelan.
Bismillahir Rahmanir Rahim ...
Wakkatenni Imallolongenna Aseng Tengen'nna Lolona I.....
Nasaba Ikung Aseng Tonge-Tongekku
Ooo... Anging Patteddorengga Atinna I...... Ri Atikku
Iko Wala Passeo Atinna
Eppona Fatimah Ritalla'E I.....
De'gaga Sampeangngi Pakkelokenna Ri Aleku
Nasaba Iya'na Eppona Yusuf
Tenrisampe Tappa
Elo'ku Na Puelo
Tea'ku Na Putea
De' Petteng Passalahuki Pakitan'na Ri Aleku
De' Pajang Paggiling Pakkitan'na Ri Aleku
Nasaba Iya'na Panyameng Ininnawan'na
Barakka Lailaha Illallah
Selama 33 kali Petta Soko mengulang bacaan diatas barulah saya bisa menghafalnya. Setelah itu kembali Petta Soko memberikan syara-syarat (Gau-Gaukeng) sembelum membacanya yaitu:
Narekko puraki mubaca ri olo'na isokenggi pelo nainappa rumpuiwi
Tanga'i mata bolong'na nainappa rampei aseng'na
Narekko Lisu'ni narapi'ni Wenni Bacai nainappa Matinro
Setelah saya menghafal dan memahaminya, Saya langsung pulang karena malam mulai larut. Setiba di rumah saya langsung tidur (Maklum kecapean). Keesokan harinya saya mendatangi Si Fatimah di halama belakang rumahnya yang sedang memetik buah coklat. Saya mengambil sebatang rokok di saku dan membacakan mantra yang sudah kupelajari dari Petta Soko lalu mengisap rokok dengan gaya roker ala Bugis kemudian meniupkan asap rokok itu ke arah Fatimah. Singkat cerita Semua langkah di atas saya lakukan.

Tiga hari kemudian, Fatimah akhirnya jatuh cinta dengan saya, dia selalu mengejar-ngejar saya, dan saya pun pacara Hal ini berlangsung sampai suatu saat orang tua Fatimah mengetahui hubungan saya dengan Fatimah, hubungan saya tidak disetujui oleh ayah dan ibunya, Fatimah dilarang menemui saya, dan dikurung di dalam kamar. Seharian itu saya tidak pernah ketemu dengannya karena dia terkurung di dalam kamarnya.

Keesokan harinya kemanakannya yang bernama La Maddu datang menemui saya.
Lokka'ki gare ri bola'E Daeng, Nassuro Olli'ki I Pa' Desa?" Kata La Maddu
Aga Naseng Naollirangnga Punggawa'e Ndi! Saya Menjawab
Malasa'ki naseng I Fatimah de' na paringngerrang Na Asetta Tulu Narampe. La Maddu menjelaskan
Lokka Riolo'ni pale Ndi' nasaba meloka lokka mitai sapikku nainappa ku lao matu!. Saya mempersilahkan

Setelah itu saya pergi melihat ternakanku kemudian langsung menyusul ke rumah pak Desa. Saya dipersilahkan masuk menemui Si Fatimah yang dalam keadaan Pingsan. Pas mendengar saya memanggil namanya, Fatimah langsung sadar dan memeluk saya. Melihat hal itu pak Desa kemudian merestui hubungan saya untuk menikah dengan Fatimah, dan saya pun menikahinya.

Setahun kemudian setelah saya menikah saya dikaruniai seorang anak kembar, tapi saya masih merasa belum puas dengan satu wanita. Lalu saya berfikir untuk mencari wanita lain dan untungnya Fatimah menyetujui keinginan saya itu. Sepertih cerita sebelumnya dengan mantra itu saya mencari wanita hingga istri ke-17 baru saya merasakan kepuasan. 17 istri dengan 31 anak saya nafkahi, tapi di bantu juga dengan istri-istri yang punya pekerjaan. Sungguh saya merasa bahagia karena setiap hari rumah ramai dengan anak-anak dan istri. Sumber : http://anaoginalinoe.blogspot.com/2011/04/baca-bacana-cewee-mantra-cewek.html

:::TUNGGU KOMENTARNYA

2014-07-13

Bugis Makassar - Bukan hanya Inggris, Norwegia serta negara-negara kerajaan lain yang memiliki gelar kehormatan, Indonesia juga memilikinya. Jangan lupakan gelar-gelar kehormatan dari keraton-keraton serta kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Jika berbicara mengenai panjang gelar, gelar dari Indonesia juga tidak kalah panjang. Kadang menyulitkan bagi mereka yang tidak tahu asal-usulnya. Tetapi, ada gelar milik Indonesia yang cukup singkat. Gelar tersebut adalah Andi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah benar Andi adalah nama gelar? Lalu, kenapa namanya terkesan seperti nama seseorang? Sulit memang membedakan nama Andi sebagai gelar dan mana Andi sebagai nama. Untuk mengetahuinya, Anda bisa melihat asal-usul dari orang tersebut. Jika berasal dari Bugis, kemungkinan Andi yang dimiliki adalah gelar.

Gelar Andi memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Semua terangkum dalam kebudayaan masyarakat Bugis. Untuk itu, ketika membicarakan gelar yang satu ini, kebudayaan masyarakat Suku Bugis secara tidak langsung juga akan ikut dibicarakan. Simak pembahasan mengenai Suku Bugis berikut ini!
Suku Bugis

Ciri Khas Masyarakat Bugis dengan Gelar Andi

Suku Bugis berada di Sulawesi Selatan. Anggota masyarakat suku ini merupakan hasil akulturasi dari berbagai etnis. Masyarakat Melayu dan Minangkabau yang datang ke daerah ini, tepatnya Kerajaan Gowa, sekitar abad 15 juga dapat dikelompokkan sebagai masyarakat Bugis. Masyarakat Suku Bugis menyebar ke berbagai penjuru Indonesia, bahkan hingga luar negeri.

Jika membicarakan asal-usul keberadaan suku ini, jangan ragukan soal panjangnya cerita yang akan Anda dapat. Semua bermula dari kebiasaan masyarakat La Sattumpugi, masyarakat yang saat ini mendiami Kabupaten Wajo, yang menyebut dirinya dengan nama to ugi. To ugi sendiri adalah sebutan bagi pengikut La Sattumpugi.

Ceritanya berlanjut hingga kemudian La Sattumpugi memiliki anak bernama We Cudai dan Batara Lattu. Batara Lattu kemudian memiliki anak bernama Sawerigading. Sawerigading sendiri menikah dengan We Cudai dan memiliki anak bernama La Galigo. La Galigo merupakan seorang sastrawan besar yang melahirkan karya sebanyak ribuan folio.

Masyarakat Bugis pun membentuk beberapa kelompok kerajaan. Kerajaan Bugis yang tergolong memiliki usia tua adalah Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, Kerajaan Soppeng, Kerajaan Sawitto, Kerajaan Sidrap, Kerajaan Rappang dan Kerajaan Sidenreng. Pernikahan yang terjadi antara masyarakat Makassar dan Mandar membuat percampuran darah antara dua budaya tidak bisa lagi dielakkan.

Suku Bugis juga menjadi identitas atau akar silsilah dari beberapa tokoh yang ada di Indonesia. Sebut saja Jusuf Kalla. Kemudian ada B.J Habiebie, Sophan Sophiaan, serta Andi Mallarangeng. Nama Andi pada Andi Mallarangeng kemungkinan adalah gelar Andi yang dimaksud.


Ragam Pendapat Tentang Andi

Gelar Andi selaku gelar kehormatan yang dimiliki masyarakat Bugis disematkan pada bangsawan-bangsawan Bugis. Ada beragam pendapat yang menceritakan asal-usul dari pemberian gelar Andi ini. Namun, temuan berupa sumber asli belum ada.

Menurut beberapa pendapat, Andi merupakan gelar kebangsawanan yang diturunakan berdasarkan garis keturunan. Setelah Bugis mendapatkan kemerdekaannya dari masyarakat Gowa, mereka yang merupakan keturunan dari campuran dari beberapa garis keturunan mendapatkan gelar ini. Mereka adalah keturunan dari percampuran berikut.

Percampuran pernikahan antara keturunan Lapatau dengan putri dari Raja Bone Sejati;
Percampuran pernikahan antara keturunan Lapatau dengan putri dari Raja Wulu yang bekerjasama dengan Kerajaan Gowa;
Percampuran pernikahan antara keturunan Lapatau dengan putri dari Raja Wajo;
Percampuran pernikahan antara keturunan Lapatau dengan putri dari Sultan Hasanuddi;
Kemudian percampuran dari pernikahan antara anak serta cucu Lapatau dengan putri dari Raja Suppa dan Tiroang;
Dan, percampuran pernikahan antara anak cucu Lapatau dengan putri-putri raja dari kerajaan-kerajaan kecil yang berdaulat di Sulawesi.

Pemberian gelar tersebut konon merupakan upaya dari Belanda, dalam hal ini VOC, untuk membangun serta mengendalikan, dalam hal ini lebih tepatnya mengubah kehidupan sosial yang ada di Sulawesi. Itu lah mengapa ada seorang jenderal bernama Muhammad Yusuf yang menolak penggunaan nama Andi. Padahal secara garis keturunan, beliau adalah memiliki garis keturunan dari Sawerigading.

Pemberian Nama Andi di Era La Pawawoi
Pendapat beberapa ahli lainnya adalah berhubungan dengan kehidupan masyarakat Bugis pada zaman pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri. Menurut cerita, pada masa pemerintahan itu, hubungan Kerajaan Bone dan pihak VOC dalam keadaan memanas. Kerajaan Bone kemudian membentuk sekelompok pasukan untuk menghadapi pasukan dari Belanda tersebut. Pasukan itu diberi nama Anre Guru Ana’ Karung.

Pemimpin dari pasukan bentukan Kerajaan Bone tersebut adalah Petta Ponggawae. Anggota dari pasukan bentukan Kerajaan Bone bukan hanya anak-anak bangsawan, tetapi juga anak dari orang-orang berkedudukan di daerahnya masing-masing. Pemuda-pemuda itu lah yang kemudian konon dianugerahi gelar Andi. Gelar itu diberikan karena mereka sudah dianggap sebagai keluarga muda Raja Bone yang rela mati demi menegakkan kehormatan yang dimiliki rajanya, atau patetong’ngi alebbirenna Puanna.

Pemberian Nama Andi versi Raja Bone

Versi lain mengenai pemberian gelar Andi berhubungan dengan Raja Bone ke 30 dan 32 bernama La Mappanyukki. Beliau merupakan putra dari Raja Gowa dan putrid Raja Bone. La Mappanyukki mendapatkan gelar Andi d depan namanya atas pengaruh dari pihak Belanda. Peristiwa itu terjadi pada 1930-an. Mengapa dalam pemberian nama Andi ini pihak Belanda memiliki pengaruh? Ini adalah siasat Belanda untuk membedakan bangsawan mana yang berpihak padanya. Para bangsawan yang menggunakan gelar Andi di depan namanya, adalah mereka yang berpihak kepada pihak Belanda.

Melihat kemudahan yang diterima para bangsawan pemihak Belanda, satu tahun kemudian, raja-raja yang berkuasa di Sulawesi sepakat untuk menggunakan nama Andi di depan namanya. Dalam buku milik Susan Millar juga disebutkan bahwa penggunaan nama Andi di depan awalnya adalah bertujuan untuk membedakan mana golongan bangsawan dan mana yang bukan.

Karena saat itu, terjadi perdamaian antara pihak kerajaan dengan VOC. VOC kemudian berjanji untuk melepaskan budak yang masih merupakan keturunan bangsawa. Penggunaan nama Andi kemudian merujuk pada peristiwa tersebut.

Pengelompokkan mana bangsawan dan mana yang bukan menemukan kendala. Banyaknya budak yang dimiliki Belanda pada saat itu berimbas pada bercampurnya seluruh lapisan masyarakat. Akhirnya, diputuskan bahwa mereka yang lolos mengikuti berbagai test, yang pastinya hanya dikuasai oleh para bangsawan, lah yang akan mendapatkan sertifikat. Test tersebut salah satunya adalah test sebagai montir mobil.

Dari peristiwa tersebut, gelar Andi seolah menjamur. Semua keturunan bangsawan menggunakan nama tersebut di depan nama aslinya. Penggunaan nama Andi pada saat itu juga cukup beragam di setiap kerajaan yang ada di Sulawesi. Misalnya seperti yang terjadi di Kerajaan Soppeng. Kerajaan ini hanya membolehkan gelar Andi digunakan oleh keturunan ketiga.
Pemaknaan Gelar Andi

Ketika seseorang memang sudah ditakdirkan menjadi bangsawan, siapa yang akan memungkirinya? Gelar-gelar kebangsawanan yang ada di Indonesia ini harus diakui cukup membuat garis strata sosial semakin jelas terlihat. Tidak heran jika pada akhirnya, ada beberapa bangsawan, yang ditandai dengan gelar di depan namanya, bangga terhadap gelar yang dimilikinya.

Sehingga, gelar tersebut terus dibawa-bawa kemana pun ia pergi. Seperti gelar Andi ini sendiri. Dan hal tersebut membuat jurang pemisah antara golongan bangsawan dan golongan masyarakat biasa.

Di golongan masyarakat Bugis sendiri, khususnya mereka para orang tua, ada sebuah anggapan bahwa siapa pun yang sering mengaku-aku dirinya sebagai bangsawan dan membawa gelarnya kemana pun serta seolah menonjolkanya kepada masyarakat luas, adalah bukan keturunan murni bangsawan.

Kebanggaan mereka terhadap gelar dengan menonjolkan nama gelar yang dimiliki seolah sebagai bentuk ketakutan apabila gelar bangsawan yang dimilikinya tidak diakui. Padahal, jika memang ia adalah bangsawan murni, tanpa menggunakan embel-embel Andi di depan namanya, masyarakat akan tetap tahu bahwa ia adalah bangsawan.

Pemaknaan gelar kebangsawanan di masyarakat Indonesia, seperti Andi memang menimbulkan perbedaan pendapat. Sejatinya, menurut salah seorang keturunan bangsawan, gelar bangsawan tidak berbeda jauh dengan kadar karat yang dimiliki sebongkah emas. Ada yang kadar karatnya tinggi dan ada yang rendah. Kadar karat ini diasosiasikan sebagai tingkah laku atau kepribadian bangsawan tersebut di tengah-tengah masyarakat.

Gelar Andi sendiri seolah menjadi suatu hal yang bisa menaikkan gengsi seseorang di lingkungan masyarakat. Pada akhirnya, pemakaian gelar Andi ini banyak yang dipaksakan. Aturan berdasarkan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan, gelar Andi hanya boleh diturunkan dari garis ayah. Jika ayahnya tidak “Andi”, ia tidak boleh menempatkan gelar tersebut di depan namanya. Sayang, aturan tersebut banyak diterabas.

Pemaknaan gelar kebangsawanan pada akhirnya seolah bergeser. Pandangan masyarakat yang terlanjur “wah” dengan gelar tersebut adalah salah satu penyebab mengapa gelar begitu sangat diagung-agungkan. Padahal, setelah meninggal nanti, satu-satunya gelar yang akan melekat adalah alm, bukan? Semoga tidak ada lagi yang memaknai gelar kebangsawanan secara salah.

2014-05-27

Bugis Makassar - Gendang/Genrang/Ganrang Yang Bahannya dibuat dari kayu seperti kayu batang pohon cendana, kayu batang pohon nangka, kayu batang pohon kelapa dan kayu jati. Pilihan bahan dalam pembuatan gendang tersebut karena disamping ketahanannya juga karakter bunyi yang dihasilkannya karena kayu tersebut berfungsi sebagai tabung suara atau ruang resonansi.

Instrumen Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Gendang tersebut, disekat oleh kulit hewan (kulit kambing) sebagai sumber bunyi dan rautan rotan kecil yang dibelah empat sebagai penarik sekat atau pembentang kulit kambing tersebut untuk mendapatkan hasil bunyi yang diinginkan.

Fungsinya:

1. Gendang Besar (Ganrang Pakballe)
Sebagai media spiritual ke transcendental pada setiap upacara-upacara ritual seperti pada pencucian benda-benda pusaka kerajaan (Gowa), upacara perkawinan pada prosesi akpassili (pembersihan) dan akkorongtigi (malam pacar), upacara assongkabala (tulakbala), khitanan.

2. Gendang Tengah (Ganrang Pakarena)
Sebagai sarana hiburan, mengiringi tari-tarian, upacara perkawinan, sunatan ataukah dihadirkan di depan tamu-tamu agung.

3. Gendang Kecil (Ganrang Pamanca)
sebagai musik pengiring seni beladiri atau pencak silat dan paraga (permainan akrobat bola takrow). pada upacara ritual, tabuhan gendang disertai tiupan serunai (puik-puik), dan tabuhan gong.

SULING

Instrumen Musik Tradisional Sulawesi Selatan

1. Suling Ponco’ (suling pendek), adalah suling yang memiliki 6 (enam) lubang nada. Pada masyarakat Sinjai suling ponco’ disebut juga suling kambara (kembar) dalam penyajiannya dilengkapi dengan nyanyian-nyanyian seperti: buruda, donda, lenggang-lenggang, si jauh la malang, ammacciang, dan lain-lain.

2. Suling Lampe (suling panjang). Suling lampe agak lebih panjang dari suling ponco’ memiliki 5 (lima) lubang nada. Pada ujung suling lampe ditambahkan tanduk kerbau yang berfungsi sebagai corong pembesar suara.

3. Suling Lontarak, adalah suling yang memiliki 4 (empat) lubang nada. Pada masyarakat Barru suling lontarak selain untuk menghibur masyarakat juga berfungsi seagai sarana ritual meong palo (naskah kuno suku Bugis). Suling lontarak dibunyikan disertai dengan nyanyian-nyanyian yang syairnya berisikan tentang petuah-petuah dan nasehat leluhur.

4. Suling Bulatta pada masyarakat Sidenreng Rappang sebagai sarana hiburan yakni disamping sebagai alat instrument pelipur lara untuk kalangan sendiri juga digunakan sebagai alat pengiring tari, pengiring lagu-lagu.

5. Suling Baliu, bagi masyarakat Soppeng menjadi musik pelipur lara di kala suntuk. Menghilangkan kejenuhan di kala menjaga kebun, dan memberikan efek ketenangan hati (terapi otot). Adapun lubang nada pada alat musik ini terdiri atas 4 (empat) lubang nada dan menyerupaijenis suling ponco’ namun sedikit lebih pendek.

6. Suling Lembang (suling panjang) pada masyarakat Toraja berfungsi ritual karena hadir pada saat pelaksanaan upacara rambu solo (upacara kedukaan) yang dimainkan bersamaan dengan gong dan nyanyian (vocal). Suling lembang ditambahkan tanduk kerbau pada ujungnya sebagai corong pembesar suara.


K e c a p i

Instrumen Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Instrumen Musik Petik. Kecapi merupakan salah satu bentuk alat musik tradisional Sulawesi Selatan. Termasuk dalam rumpun alat musik chordophone atau alat musik yang bersumber bunyi dari dawai/senar. Dahulu kecapi sangat digemari dikalangan tua dan muda, dapat menjadi pelipur lara dikala gundah ataupun teman bersuka ria. Kecapi juga menjadi sahabat dekat bagi para petani yang sedang menunggui sawah ataupun para pelaut yang sedang berlayar di tengah samudera.

Seiring perjalan zaman pemainan kecapi sebagai sarana hiburan tampil lebih fleksibel berdasar pada permintaan masyarakat. Kecapi dapat dimainkan oleh satu orang dapat juga secara berkelompok dalam bentuk ansambel sejenis. Juga dapat dimainkan bersama dengan alat musik tradisional lainnya seperti gendang, suling, lea-lea, gong, biola, mandaliong, katto-katto dan lain-lain.

Adakalanya disertai penyanyi laki-laki atau penyanyi perempuan. Permainan kecapi juga digunakan sebagai pengiring tarian. Permainan kecapi hadir pada upacara-upacara seperti perkawinan, sunatan, acara kenegaraan dan lainnya. Adapun bahan pembuatannya dari batang pohon kayu cendana, kayu nangka dan kayu jati. Alat musik ini terdiri atas 2 (dua) senar/dawai dengan masing-masing senar memiliki stem yang berbeda. Dahulu, kecapi dalam masyarakat terdiri atas 3(tiga) grep namun mengalami perkembangan menjadi 4-6 grep.

Instrumen Musik Tradisional Sulawesi Selatan

(Gambar kecapi "kitoka", yang merupakan inovasi kecapi tradisional Bugis Makassar)

Demikian Instrumen Musik Tradisional Yang admin Kutip dari blog Oldies Bugis-Makassar

2014-03-31

Bugis Makassar, Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Suku Bugis, Karena letaknya yang berada di daerah dataran yang subur kebanyakan masyarakat bugis bermata pencaharian sebagai petani. Faktor ini sangat di dukung oleh kesuburan tanah yang sangat sehingga menjadikan wilayah suku bugis menjadi wilayah pertanian.mata pencaharian lainnya di suku bugis adalah nelayan, selain terletak di dataran yang subur suku bugis juga mempunyai wilayah di pesisir yang di anugrahi banyak sumber daya yang melimpah di lautan. Hal ini di manfaatkan masyarakat untuk mencari penghasilan di lautan.


Mata pencaharian terakhir yang banyak di geluti oleh masyarakat bugis adalah pedagang karena hasil dari para petani dan nelayan akan di distribusikan ke pedagang pedagang, lalu pedagang mengumpulkan jumlah yang lebih besar dan di distribusikan kembali ke masyarakat umum suku bugis. Dari semua mata pencaharian semua inilah masyarakat suku bugis mendapatkan perekonomian untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.

Selain itu pada masa sekarang masyarakat suku bugis juga sudah banyak yang mengenyam dunia pendidikan dan masuk ke dunia birokrasi pemerintahan.jadi dari birokrasi yang telah dijalankan sebagian kecil masyarakat bugis mampu mendapatkan perekonomian yang baik. Tapi mata pencaharian yang sangat umum adalah petani, hal ini dikarenakan banyak kebutuhan kebutuhan masyarakat suku bugis sehari harinya dihasilkan oleh lading pertanian misalnya seperti beras, jagung, tembakau,

Demikian juga halnya dalam budaya masyarakat tani Bugis. Sebelum mengenal agama Islam, mereka telah memiliki kepercayaan asli (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan nama Dewata SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama Tuhan itu menunjukkan orang Bugis memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis.

Istilah Dewata SeuwaE dalam aksara lontara, dibaca dengan bermacam ungkapan, misalnya Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang merupakan cerminan dari sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis. De’watangna berarti tidak berwujud, sedangkan De’wangta atau De’batang berarti yang tidak bertubuh.

Kepercayaan orang Bugis kepada Dewata SeuwaE hingga kini masih berbekas dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang dihuni manusia, tanaman dan ternak, serta dunia bawah (peretiwi). Setiap dunia mempunyai penghuninya masing – masing, satu dengan yang lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia.

Dalam perspektif usaha/kerja, masyarakat Bugis umumnya juga memaknai hidup ini dengan kerja keras (reso’/jamang). Bahkan dalam adat istiadat orang Bugis, makna reso’/jamang merupakan bagian dari kehormatan (siri’). Dalam pandangan orang Bugis, sangat memalukan jika seorang yang sudah cukup umur namun tidak memiliki pekerjaan, bahkan menjadi beban bagi orang lain (masiri narekko tuo mappale). Sehingga tidak mengherankan jika dalam kebudayaan petani Bugis memegang teguh prinsip reso’ temmangingngi nalletei pammase dewata (usaha yang sungguh – sungguh diiringi ridha Yang Maha Kuasa), dan inilah yang menjadikan suku Bugis terkenal sebagai salah satu suku pekerja ulet disegala bidang, termasuk dalam bidang usahatani. Terlebih lagi Sulawesi Selatan pada umumnya adalah sentra tanaman pangan, dan sawah adalah salah satu tolok ukur wibawa suku Bugis.

Budaya kerja masyarakat tani suku Bugis begitu melekat pada diri pribadi mereka, sehingga kemanapun merantau (sompe’), prinsip kerja keras menjadi bagian hidup mereka, dan ikut mewarnai hidupnya. Fakta menunjukkan, suku Bugis terkenal sebagai pelaut ulung dalam mengarungi lautan, pekerja ulet dalam bidang usahatani, dan pengusaha yang sabar dalam menjalankan usahanya.

Salah satu corak budaya tani orang Bugis adalah mappataneng, tradisi berusahatani ala Bugis yang dilakukan suku Bugis di Kalimantan, khususnya Kabupaten Nunukan. Tradisi mappataneng di lakukan oleh masyarakat tani suku Bugis yaitu bertanam padi di sawah secara berkelompok. Sebelum acara mappattaneng dilaksanakan, tokoh adat atau orang yang dituakan/rohaniawan (panrita) akan mengundang petani setempat untuk tudang sipulung (bermusyawarah) menentukan waktu bertanam. Dalam acara ini biasanya unsur pemerintah ikut dilibatkan, yaitu PPL maupun aparat desa/kecamatan setempat.

Setelah waktu tanam ditetapkan, maka acara mappataneng akan didahului dengan pembacaan do’a tolak bala (doa salama’) dengan maksud agar usahataninya terbebas dari segala bencana dan serangan hama – penyakit tanaman. Dalam pembacaan do’a tolak bala ini, disajikan berbagai hasil bumi dari panen tahun lalu.

Do’a biasanya dibaca di rumah petani yang bersangkutan, atau biasa juga dibawa ke sawah secara kolektif. Dalam kegiatan ini, benih padi yang akan ditanam diisi daun penno penno, diturutsertakan dalam acara pembacaan do’a tersebut. Daun penno – penno adalah jenis daun yang biasa tumbuh di sekitar rumah dan disertakan dalam upara tersebut dengan harapan hasil panen akan melimpah ruah (kata penno dalam bahasa Bugis artinya penuh). Setelah upacara doa salama’ di laksanakan, benih padi lalu disebar ke pesemaian. Selanjutnya teknik budidaya usahatani pada padi sawah tetap menggunakan petunjuk PPL setempat.

Jika waktu panen telah tiba, maka dilakukan acara mappasangki. Seperti mappataneng, acara ini juga dilakukan secara bergotong – royong dengan melibatkan petani lainnya. Mereka dengan cara bergantian memanen padi di sawah. Hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah terjadi interaksi dari dua pola budaya berbeda, dimana seringkali petani Bugis mengundang petani suku Tidung untuk ikut massangki di sawah. Petani yang ikut membantu tidak diberi upah, namun diberi bagian sedikit hasil panen agar mereka bersama – sama merasakan nikmatnya berre (beras) hasil panen ase (padi) baru.

Jika seluruh padi telah dituai, maka mereka kembali melakukan acara syukuran (do’a salama) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan kurunia sehingga hasil panen dapat dinikmati oleh para petani.
Seiring perjalanan waktu, dan interaksi diantara berbagai budaya di Nunukan, serta terjadinya asimilasi diantara berbagai suku yang ada, acara mappataneng dan mappassangki tidak lagi dilaku kan secara menyeluruh oleh petani Bugis di Nunukan. Namun di beberapa tempat, seperti di Sebatik, masih dilakukan oleh beberapa petani Bugis sebagai warisan leluhur mereka dari Sulawesi Selatan.
Design by Premiumbloggertemplates Diubah Oleh Anak Bugis Makassar | Kontak | Privacy Policy | Disclaimer