2012-10-27

MELIHAT PARAKANG MANUSIA JADI JADIAN DI SULAWESI SELATAN, Parakang adalah manusia jadi jadian dari pulau sulawesi konon parangkang ini suka dan doyan memangsa orang yang lagi sakit Begini ceritanya Honggah Istilah parakang paiso pallo" juga "Parakang uang", bisa jadi Ngetrend disulawesi selatan, Cerita Mistik dari Bugis Makassar Malam itu jum'at Kliwon, ketika bumi sangat Hening dan masyarakat kampung sedang tidur nyenyak melayari mimpi, Tetapi cerita ini berakhir saat terdengar raungan halus, namun seperti sangat dekat,Huaaarrrr Huarrrrr Ghhaaaaar,

Rambut Panjang Parakang
Rambut Panjang Parakang

Nah bagi anda yang ingin lebih tahu mengenai parakang simak selengkapnya disini parakang orang jadi jadian

Foto parakang orang jadi jadian
Foto parakang orang jadi jadian

MELIHAT PARAKANG MANUSIA JADI JADIAN DI SULAWESI SELATAN

Tiba-tiba semua terjaga dari tidur akibat bunyi sayup-sayup itu. Kulihat lampu pendaflour berkelip-kelip di siling atap bata. Kuusap-usap mataku, sama, lampu berkelip-kelip begitu juga. Di luar hujan turun dengan lebat, tempiasnya masuk di celah-celah bata keping yang menjadi atap itu.

Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi Parakang Pun Beraksi.
Huuuaaarrrrr…., thaapss…! suara seperti rektum tercabut dari dubur dan tempias ke sebuah mulut seper-sekian detik, seorang korban kehilangan rektum beserta ususnya.

Yang dimaksud dengan Parakang adalah satu jenis makhluk jadi jadian di daerah Bugis-Makassar yang sangat ditakuti. Parakang bisa mengubah diri menjadi bermacam-macam wujud: seperti :
Pohon pisang, kambing, tangkai-tangkai bambu atau "ampoti", bahasa Bugis terj : keranjang anyaman dari daun kelapa tempat bertelur ayam . Mahluk ini adalah seseorang yang bisa berubah-ubah menjadi hewan, benda dan apa saja yang bentuk dan modelnya aneh dan menyeramkan, tampak beda dengan asli obyek yang ditirunya

Parakang

Contohnya, dia berubah menjadi Anjing maka anjing hasil jelmaan manusia yang mempunyai ilmu parakang ini beda dengan anjing betulan, perbedaannya hasil setelah jelmaannya maka anjing tersebut tidak mempunyai ekor dan kaki belakangnya lebih tinggi.Jelmaan lainya bisa juga berubah menjadi kucing, babi, kambing.dan hewan-hewan lainya, yang membedakan dia tidak mempunyai ekor/buntut. dan punggung belakangnya lebih tinggi.

Parakang manusia jadi-jadian bukanlah hantu juga bukan sejenis bangsa jin atau makhluk halus tetapi manusia yang salah dalam proses awal menimba atau menerima ilmu tentang "pesugihan/kekayaan", tetapi pada daerah tertentu pakkissa atau orang yang memberi kisah, cerita tentang parakang ini terkorelasi dengan keadaan pattennung, atau orang yang membuat kain tenun dari bahan ulat sutra (tapi asbab cerita ini terpotong, insyaAllah akan kami cari tahu silang kait pattennung ini dengan parakang ), tetapi secara sebab menjadi parakang ini (disamping sebab sebelumnya yang kami ceritakan tadi ), juga oleh banyak sumber mengatakan " sebenarnya adalah manusia yang menuntut ajaran ilmu hitam untuk mencapai kehidupan abadi juga hal yang berkaitan dengan kekayaan".

Parakang bagian dari anggota masyarakat di Sulawesi Selatan, (maksud kami terdapat satu buah kampung yang seluruhnya adalah parakang pada daerah tertentu, dan meregenerasi sebab menjadi hal turun-temurung. Apabila orang tuanya adalah seorang parakang, maka anaknya pun akan jadi parakang seolah garis taqdir hidupnya demikian

Pada umumnya parakang di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, hanya matanya tetap kelihatan merah, sumber mengatakan bahwa sorot matanya memang bikin bergidik, entahlah…. , sedang pada malam hari ia bekerja berkeliaran ke kolom kolom rumah atau sesekali sesuatu berkelebat melintas di jendela rumah, dengan mencari kalau kalau ada yang bisa atau mumpuni di isap rektumnya atau dalam dialektika bahasa Bugis disebut, “ri iso pello na”. Adapun hal  obyek yang sangat suka di dekati parakang bahkan seolah ia tersihir mendekat diluar kesadarannya yaitu adanya orang sakit, atau orang yang baru saja meninggal, juga teridentifikasi oleh sumber mengatakan bahwa , "parakang ini sangat menyukai janin, juga bayi sebagai santapan yang paling enak. Kemestian menyantap atau mengisap rektum ini menjadi seolah utang yang tak terbayar jika tidak dapat melaksanakan hajatan tersebut, maka jika tak menemu obyek manusia, alternatif lainya adalah mengisap rektum kerbau peliharaan milik masyarakat.

Hingga kini parakang sangat ditakuti terutama oleh ibu-ibu di kampung yang memiliki balita, perawan, orang sakit, terlebih lagi orang sekarat, kategori terakhir ini sungguh sangat di sukai oleh Parakang, seolah melihat sebiji nangka atau buah-buahan lain yang matang sempurna dan menggiurkan untuk dicicipi. Dan hasil wawancara mengatakan bahwa si parakang ini  ke-perubahannya atau je-jadijadiannya terjadi di luar kesadaran, dan tak memilih waktu malam atau siang, hal ini mencadi cerita umum di Sulawesi Selatan, maka bila seseorang sedang diambang kematian atau sekarat, semacam cam waspada dari semua famili si sakarat telah mengantisipasi menahan laju dekatnya parakang tersebut, demi ia tak mengisap rektum orang sekarat dan yang sudah meninggal tersebut, cerita tentang ini sekali waktu, ada orang yang sudah meninggal, tersebutlah diantara pengunjung menengok si mayat tersebut, tetapi kecolongan ternyata yang menengok itu adalah parakang, untung saja ia di cegat dengan cepat saat wajah orang tersebut berubah menegang keras dan lidahnya telah menjulur .

fenomenal : Proses Manusia menjadi dan ke-abadian Parakang
Jika seorang parakang sedang sekarat bisa sebab ketuaan  menghadapi sakratul maut, ia akan tarus mengulang-ulang kata” lemba …“(pindah : bahasa makassar) sampai ada seorang dari keluarganya yang mengiyakan/ rela dirinya menerim jadi parakang. Meskipun ia hanya menyampaikannya di dalam hati, (barulah parakang tua tersebut dapat menghembuskan napasnya terakhir kali mati) faktor yang menyebabkan ia menerima /dengan menyetujui hal tersebut berpindah padanya “lemba” rela menerima, lebih dominan disebabkan oleh perasaan kasihan kepada orang tuanya atau siparakang tersebut, sebab si Parakang itu begitu menderita jika ilmu tersebut tidak berpindah, bahkan ruhnya tak dapat meninggalkan raganya, sangat tersiksa...

Dan keadaan ini, proses lemba sudah menjadi kebiasaan bagi org yang menjadi parakang tersebut tidak bisa meninggal dunia sebelum ada sanak keluargannya menerima ilmu tersebut. iyakanlah maka anda parakang selanjutnya.

Sedetik sebelum parakang
Efek dari keadaan ini maka pantang pamali atau pemmali adalah larangan keras untuk orang lain (yang bukan parakang , bertandang kerumah keluarga yang berstatus parakang (sebab ketahuan), meskipun sebab menghargai si obyek parakang sebagai status tidak di sebarluaskan,

Dalam hasil ahli terawang ke-pengenalan Parakang , sekali waktu mereka ditangkapi dengan menggunakan kurungan ayam sebagai perangkap, keadaan ini terkait dengan istilah "parakang menyogok dengan emas " agar identitasnya tetap di rahasiakan oleh pawang tersebut, terkadang pula masyarakat yang mengetahui akan keberadaan parakang ini, sering iseng dengan memasukkan belutnus pada comberan rumah parakang, yang menyebabkan ketahuannya sebagai obyek parakang karena ia akan mencari menelusuri terus menerus dimana belutnus tersebut berada, hingga comberan tampak kering lantaran belut tersebut harus tertangkap, hal ini masih sesuatu yang misterius bagi pelacak yang coba di ketahui.

Sebuah deteksi yang membenarkan penandaan dengan me-coba, perhatikan mata parakang tersebut?.(sebuah ket= jika bayang kita terdapat di matanya dlm keadaan terbalik bermakna dia itu memang parakang.

Jika ia berubah ujud pada (kadang malam juga siang) ia dapat menyerupai se- macam anjing dengan badan tak berbulu, cuma bila berlaku transformasi dari manusia ke parakang makhluk jejadian, pasti ia akan bertambah besar dan sangat kuat, (lengan dan tangan, kuku-kuku menjadi keras dan panjang, dan muka menjadi sangat huduh, dengan mata merah menyala, dan mulut menjadi besar dengan lidah terjulur kasar dan kesat, serta barisan gigi-gigi yang sangat runcing dan tajam

Parakang sebuah istilah
Banyak yang membenarkan bahwa keluarga parakang itu gadisnya cantik-cantik, merupakan renungan yang menggoda di mata orang pemuda, bahkan kehidupan mereka kaya, populernya istilah parakang ini terkait dengan sebuah kalimat bahasa Makassar "parakang doe" parakang uang, dalam pengertian makhluk jejadian yang mencuri uang, teks ini juga menjadi kata kiasan di sulawesi selatan bermakna " mata duit-an", ada-ada saja sumber uangnya. Wallahu A'lam bishawab.

Gambar Parakang Yang di Tangkap Oleh Kamera
Gambar Parakang Yang di Tangkap Oleh Kamera

Cara Antisipasi atau Penangkal Parakang.
Jika menemukan parakang, misalnya dengan wujud pohon pisang, orang dianjurkan untuk memukulnya sekali atau tiga kali saja. Jika sekali pukul dipercaya akan membunuhnya dan tiga kali akan membuatnya cacat. Itulah mengapa perempuan tetangga saya yang pindah itu dianggap parakang karena berjalan seperti orang dengan lutut kesakitan. Menurut orang-orang, suatu malam, perempuan itu tertangkap basah berwujud kambing dan dipukul dengan potongan kayu dilututnya sebanyak tiga kali. Sejak saat itulah ia berjalan dengan cara yang aneh. Makhluk parakang ini memang manusia, tapi jika telah sakarat atau ajal telah mampir, ya mati-nya susah selagi keluarga atau familinya tidak ada yang rela menerima ilmu sesat tersebut Sebagai penerus...berMINATkah anda..?

Catatan kaimuddin mbck "hantu hantu di sulawesi selatan"dalam Parakang manusia jadi-jadian di Sulawesi Selatan lengkap, demikian catatan ini- kedepan kami akan lebih memperbaikinya juga melengkapinya, sebab pertanyaan yang banyak dan juga mendesak.link catatan untuk anda ke refresh, demikianlah persembahan dari saya mengenai PARAKANG MANUSIA JADI JADIAN DI SULAWESI SELATAN Artikel ini Pertama kali dipupulerkan oleh orang Maros Penasaran silahkan visite webnya di SANGBACO.COM
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
KAHAR MUZAAKKAR PEJUANG ASAL SULAWESI SELATAN Abdul Kahar Muzakkar ada pula yang menuliskannya dengan nama Abdul Qahhar Mudzakkar; lahir di Lanipa, Kabupaten Luwu, 24 Maret 1921 – meninggal 3 Februari 1965 pada umur 43 tahun; nama kecilnya Ladomeng) adalah seorang figur karismatik dan legendaris dari tanah Luwu, yang merupakan pendiri Tentara Islam Indonesia di Sulawesi. Ia adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terakhir berpangkat Letnan Kolonel atau Overste pada masa itu.

Foto KAHAR MUZAAKKAR
Foto KAHAR MUZAAKKAR


KAHAR MUZAAKKAR PEJUANG ASAL SULAWESI SELATAN

Ia tidak menyetujui kebijaksanaan pemerintahan presiden Soekarno pada masanya, sehingga balik menentang pemerintah pusat dengan mengangkat senjata. Ia dinyatakan pemerintah pusat sebagai pembangkan dan pemberontak.

Pada awal tahun 1950-an ia memimpin para bekas gerilyawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara mendirikan TII (Tentara Islam Indonesia) kemudian bergabung dengan Darul Islam (DI), hingga di kemudian hari dikenal dengan nama DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pada tanggal 3 Februari 1960, melalui Operasi Tumpas, ia dinyatakan tertembak mati dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Siliwangi 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo. Namun tidak pernah diperlihatkan pusaranya, mengakibatkan para bekas pengikutnya mempertanyakan kebenaran berita kejadiannya. Menurut kisah, jenazahnya dikuburkan di Kilometer 1 jalan raya Kendari,sulawesi tengara. Tapi sampai saat ini banyak yang tidak percaya atas kepergiannya karena belum ada bukti nyata tentang keberadaannya di sana.

Riwayat Abdul Kahar Muzakkar, Pejuang Sulsel Yang Dikhianati Bangsanya Sendiri

Dalam buku Revolusi Ketatanegaraan Indonesia, Abdul Kahar Muzakkar pernah menuliskan keterangan tentang dirinya.“Sedjak masa ketjil saja tidak pernah ditundukkan oleh lawan-lawan saja dalam perkelahian dan sedjak dewasa saja tidak pernah mendjadi “Pak Toeroet” pendapat seseorang di luar adjaran Islam.”
Pada bukunya lain, yang berjudul Tjatatan Bathin Pedjoang Islam Revolusioner, ia kembali mempertegas siapa dirinya dengan mengeja arti namanya.

Abdul artinya hamba, Kahar artinya Tuhan yang Gagah Perkasa, sedangkan Muzakkar memiliki makna jantan. “Jadi, Abdul Kahar Muzakkar berarti: Hamba Tuhan jang bersifat djantan.” Kira-kira begitulah watak dan kepribadian Abdul Kahar Muzakkar. Sebuah pemahaman sekaligus penyerahan diri pada nilai-nilai Islam yang ditunjukkan oleh seorang pejuang.Kahar Muzakkar, lahir dari keluarga Bugis berdarah panas, yang tak mengenal kata gentar dalam kamus hidupnya. Lahir 24 Maret 1921, di Kampung Lanipa, Pinrang, Sulawesi Selatan. Pada usia remaja, ia telah diminta oleh sang ayah untuk merantau menimba pengetahuan, dan Jawa menjadi tujuannya.Di perguruan Muhammadiyah Solo, ia memintal ilmu agama. Di sini pula ia untuk pertama kali bergerak dalam gerakan Hizbul Wathon.

Kisah perjuangannya dimulai sejak Jepang memasuki Sulawesi.Tak seperti banyak pemuda, yang menganggap Jepang pembebas dari Timur, Kahar Muzakkar yang menolak menjadi Pak Turut tak mudah percaya. Pembelotan pertama yang ia jalani adalah menentang sikap Kerajaan Luwu yang kooperatif dengan penjajah Jepang.Hukuman pun dijatuhkan, Kahar Muzakkar dituduh menghina kerajaan dan diganjar vonis adat ri paoppangi tana, hukuman yang memaksa ia pergi dari tanah kelahiran.Pada periode inilah ia terjun total dalam kancah perjuangan kemerdekaan. Ia mendirikan sebuah toko bernama Toko Luwu yang ia jadikan sebagai markas gerakannya. Kiprah ini pula yang mengantar beberapa muda menemui Kahar Muzakkar suatu malam dan meminta ia membantu pembebasan pemuda-pemuda berjumlah 800 di Nusakambangan.

Pembebasan itu terjadi pada Desember 1945, dan 800 orang yang dibebaskan menjadi cikal bakal lasykar yang dibentuknya. Lasykar yang diberinama Komandan Groep Seberang ini pula yang menjadi motor perlawanan secara militer di Sulawesi Selatan.Tapi, dalam perjalanannya, lasykar yang dipimpinnya dipaksa bubar oleh pemerintahan Soekarno yang baru berdiri. Dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel, ia menjadi perwira tanpa pasukan yang diterlantarkan.

Setelah itu, ia masih mencoba untuk berkiprah dengan mendirikan Partai Pantjasila Indonesia.
Pada tanggal 7 Agustus 1953, ia memproklamirkan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Dan proklamasi ini adalah awal dari babak baru perjuangan Abdul Kahar Muzakkar. Gerakan yang diusungnya ini mendapat simpati dari rakyat, bahkan kemudian, banyak anggota TNI yang disertir, melarikan diri masuk hutan dan bergabung bersama NII Sulawesi Selatan.

Perlawanan terhadap pemerintahan Soekarno masih terus dilakukan, dan tercatat sebagai perlawanan terpanjang dalam sejarah TNI di Sulawesi.Sebenarnya ia menaruh harapan yang sangat besar pada Soekarno. Ia berharap Soekarno mengawal Indonesia menjadi sebuah negara berdasarkan Islam, yang akan mengantarkannya pada kebesaran.

Dalam sebuah suratnya untuk Soekarno, ia mengutarakan hal tersebut.“Bung Karno yang saja muliakan. Alangkah bahagia dan Agungnja Bangsa Kita dibawah Pimpinan Bung Karno, jika sekarang dan sekarang djuga Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Islam, Pemimpin Besar Bangsa Indonesia, tampil ke muka menjeru Masjarakat Dunia yang sedang dipertakuti Perang Dunia III, dipertakuti kekuasaan Nuklir, kembali kedjalan damai dan perdamaian jang ditundjukkan oleh Tuhan dalam segala Adjarannja jang ada di dalam kitab sutji Al Qur’an….”

Tapi sayang, seruan Kahar Muzakkar seperti gaung di dalam sumur. Harap tak bertemu, malah petaka yang dituai. Kahar Muzakkar menjemput ajalnya di tangan tentara Divisi Siliwangi yang dikirim khusus menghabisi gerakannya.Kematiannya semakin menambah panjang daftar para pejuang yang dikhianati oleh sejarah bangsanya sendiri.
Demikianlah ulasan admin Bugis makassar mengenai KAHAR MUZAAKKAR PEJUANG ASAL SULAWESI SELATAN Semoga bermanfaat sumber : Wikipedia - fotomakassar.blogspot.com
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
SAHABAT BUGIS MAKASSAR Syarat untuk menjadi Sahabat Bugis Makassar Sagatlah Mudah Tanpa Perlu Meberikan "Back link Bugis Makassar" cukup dengan memenuhi Kriteria Dibawah ini :
Anda Adalah Blogger Mencangkup Wilayah Indonesia
Blog Sepi atau Ramai Bukan permasalahan Bagi Saya Admin yang jelas anda sudi menjadi Sahabat Bugis Makassar
Follow Blog Bugis Makassar
Selesai Follow Silahkan Menambahkan Komentar Anda Diblog Bugis Makassar dengan cara memilih artikel atau tulisan mana yang menurut Sahabat Bugis Makassar Suka
Berikan Tanggapan, Saran Dan Kritikan Yang Sesuai dengan Isi Artikel Yang anda baca diblog ini
Insyah Allah Saya Admin Akan Melakukan Update Pada Postingan Sahabat Bugis Makassar Secara Berkala disaat Saya Online dan memberikan Back Link Gratis dari Situs BUGIS MAKASSAR
Berikut Link Sahabat Yang Kami Update Silahkan Dilihat dan Mengadakan Silahturahmi Atau Blogwalking demi Mempererat Hubungan Silahturahmi Antar Sesama Blogger

SAHABAT BUGIS MAKASSAR

SAHABAT BUGIS MAKASSAR

SAHABAT BUGIS MAKASSAR


Daftar Link Bugis Makassar Tulisan Jadilah Sahabat Bugis Makassar Akan Kami Isi Dengan Url Sahabat Blog ini



SAHABAT BUGIS MAKASSAR

NB. Info Lebih Lanjut Contact Admin Bagi anda yang Minat Berikalan Disitus Kami :
Info Kontak : +62813-5530-00899
Email : bugiesmakassar@gmail.com
..::Terima Kasih Atas Kunjungannya::..
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang

2012-10-26

SEJARAH GELAR ANDI PADA BANGSAWAN BUGIS MAKASSAR, Bugis Makassar bagi anda yang mencari infomasi mengenai asal usul bangsawan bugis mari kita simak besama disini Asal-usul gelaran andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi soalan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelaran andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber-sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.

Arung Palakka
Foto Arung Palakka

SEJARAH GELAR ANDI PADA BANGSAWAN BUGIS MAKASSAR

Dari beberapa sumber-sumber yang kami dapatkan, maka dapat dihuraikan secara ringkas tentang penggunaan nama Andi sebagai gelaran yang digunakan oleh para bangsawan Bugis.

Sebutan Kata Andi adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwarisi hasil genetik keturunan Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa. "Andi" ini bermula ketika 24 Januari 1713 digunakan sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkahwinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu yang bersekutu dengan kerajaan Gowa, Lapatau dengan putri raja Wajo yang bersekutu dengan kerajaan Gowa, Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin Sombayya Gowa, Anak dan cucu Lapatau dengan puteri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Perkahwinan tersebut sebagai usaha VOC untuk membina dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang berpotensi pasca perjanjian Bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi Sawerigading (Celebes).

Siapa yang dinafikan kalau Alm Jeneral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sebenarnya orang Bugis genetik sang Sawerigading. Siapa pula yang dinafikan bahawa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelaran "Andi" kerana bukan keturunan langsung Lapatau.

Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain kerana belum ditemui catatan secara bertulis dalam "Lontara" tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu rujukan penggunaan nama "Andi" tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah "Rompana Bone". Dalam menghadapi Belanda terbentuklah pasukan khas iaitu pasukan "Anre Guru Ana 'Karung" yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam pasukan tersebut tidak di hadkan hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) sahaja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang ibu bapanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti kanak-kanak pabbicara'e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai "Bakka Lolo dan Manu Ketti-Ketti". Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran "Andi" sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong'ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).

Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tetamu yang mamakai gelaran "Andi" atau "Petta" dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan "Nigatu Wija idi 'Baco Baso? Anda keturunan siapa Baso Baco?. Baso Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab "iyye, iyya atanna Petta Pole saya adalah hambanya Petta Pole", maka Petta Imam Poke mengatakan "Koki Tudang ana baco baso" duduklah disamping saya sambil menunjukkan berhampiran tempat duduknya, maka nyatalah bahawa "Andi" mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawapan Petta mengatakan "oohh, enreki mai ana baco" sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah "Andi" mereka pakai kerana geleran bagi anak ponggawa kampong panglima atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.

Dalam versi yang hampir sama, gelaran Andi pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan di depan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandakan Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat pelbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar "Andi" didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
Kelihatannya kita perlu membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa'e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone kerana era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang berkenaan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana 'Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama'e Anre Gurutta HAPoke Ibni Mappabengga Mantan imam besar masjid Kingdom Bone

Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya 'Bugis Weddings' telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul Perkawinan Bugis disinggung bagaimana proses lahirnya gelaran Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Kerajaan Belanda pada tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan merundingkan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, kerana kerumitan proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan darjat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sijil mungkin sejenis sijil-sijil yang menunjukkan bahawa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya.

Penggunaan Andi saat itu juga pelbagai di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahawa gelaran Andi adalah bangsawan pada darjat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.

Dari sumber seterusnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar Kebangsawanan "Datu" adalah gelaran yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Goa yang bergelar Sombaiya.

Gelar kebangsawanan lain, mengikut kepada kerajaan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelaran itu mengikut terhadap jawatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membezakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.

Gelar "Andi" baru ada setelah era Kerajaan Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditakluk Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan tempatan. Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Kerajaan Pribumi swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi soalan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahawa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelaran dan pilihan personal terhadap kemerdekaan penjajahan.

Secara am Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang kampung wanua sebelum datangnya To Manurung To Tompo. Pimpinan-pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut Kalula arung dengan nama alias gelar berbeza-beza yang disesuaikan dengan nama kampung keadaan perilaku berkenaan yang dia peroleh melalui pelantikan pelantikan oleh sekumpulan anang masyarakat dan secara kekerasan peperangan bersenjata yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditakluk dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi kuat.

Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, 'asal usul' dan 'namanya' kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekumpulan pimpinan Kalula arung matoa bersetuju untuk mengangkatnya menjadi ketua kumpulan dikalangan Kalula arung yang selanjutnya menjadi penguasa raja yang bererti pula asas dasar sebuah kerajaan negara telah terbentuk-mana tanah wilayah, pemimpin penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah dipenuhi.

Penguasa Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung To Tompo [jika dia 'ada' muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengahwinkan anak-anaknya dengan bangsawan tempatan yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka.

FATIMAH BANRI WE BANRI GAU Tahun 1871 - 1895
We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru 'Rukka Arung Palakka menjadi mangkau' di Bone. Dalam khutbah Jumaat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, kanak-kanak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang KaraengE ri Gowa.

Yang menjadi tanda tanya adalah :
Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama gelaran itu sebelumnya?
Mengapa kata 'Andi' yg digunakan disepakati sebagai penandaan gelar bagi kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?

Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya kerana tata cara pandang bergantung nara sumber data yang dimilki.

Perbedaan boleh kita lihat sebagai berikut Yaitu:
Apabila yg memakai data dari sytem pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahawa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan soalan iaitu: Apakah pemberian nama Andi di mana kedudukan bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda kerana baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelaran itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopularkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?

Dari soalan diatas dapat disimpulkan sementara bahawa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur.

Apabila data yang merujuk kerana istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap kerana sama setaraf juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan kerana contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun kerana banyaknya ketua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sukar menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sukar penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.

Ini juga menjadi data tepat bahawa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak boleh diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda di mana orang-orang bule baik Belanda, Portugis hingga Inggeris sukar menyebut huruf "R".

Data yg paling cukup kuat adalah bila suatu kampung (Wanua, Limpo) yang hampir seluruhnya didiami oleh keturunan bangsawan dimana semuanya sejajar ketika dikampung mereka hanya disebut La Nu dan hanya namanya La Nu tapi pada saat dia keluar secara automatik masyarakat luar melekatkan nama Andi depannya. menajdi Andi Nu sebenarnya banyak tokoh di abad ke 18 telah diberi nama Andi sebelum Andi Mappanyukki.

Dari beberapa huraian yang dipaparkan di atas mungkin sukar untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelaran Andi bagi bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa rujukan sekurang-kurangnya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis. Semoga ulasan asal usul gelar bangsawan bugis bisa berfaedah sumber : facebugis.blogspot.com
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang

2012-10-25

SEJARAH ORANG BUGIS DI AFRIKA SELATAN Dari manakah sebenarnya asal usul orang Bugis Makassar yang kini bermukim di Afrika Selatan? Dari Malaysia atau dari sulawesi? Pertanyaan itulah yang dibawa Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia Graffits Memela ketika bertemu Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dalam kunjungannya ke Sulsel, Senin (12/5) malam. Sebab, menurut Graffits, selama ini ada anggapan bahwa orang Bugis Makassar di negaranya berasal dari Male (Malaysia).

Sementara itu, pemerintah Sulsel menyatakan orang Bugis di Afrika itu berasal dari Sulsel, Mana yang benar?” Begitu kira-kira pertanyaan yang dilontarkan Graffits kepada Syahrul Limpo dalam pertemuan silaturahmi kedua pejabat di rumah jabatan Gubernur Syahrul.

Menjawab keraguan Graffits itu, Syahrul yang baru sebulan dilantik sebagai Gubernur Sulsel periode 2008-2013 menegaskan bahwa orang Bugis Makassar di Afrika adalah keturunan Syekh Yusuf, ulama dan pejuang yang berasal dari Sulawesi Selatan yang dibuang pemerintah Belanda ke negara itu pada abad ke-16.

Syekh Yusuf adalah keturunan Raja Gowa (Sulsel) yang diasingkan pemerintah Belanda ke Afrika yang kemudian mengajarkan agama Islam sekaligus berjuang membela Afrika dari penindasan penjajah di negara tersebut,” katanya. Lalu, dari hasil perkawinan pengikut Syekh Yusuf inilah berkembang keturunan orang Bugis Makassar hingga saat ini di Afrika.

Kuburan Pejuang Gowa
Kuburan Pejuang Gowa


Bahkan, tambah Syahrul, Kuburan ulama kharismatik dan pejuang dari Gowa itu ada di Afrika dan di kabupaten Gowa, Sulsel. Ini membuktikan bahwa hubungan darah antara rakyat Afrika dan Indonesia khususnya Gowa sudah menyatu sehingga perlu dijalin kerjasama budaya dan pendidikan di negara itu.

Kerja sama pembangunan Rumah Adt Balla'Lompoa

Kerja sama pembangunan Rumah Adt Balla'Lompoa
Miniatur rumah adat Gowa atau Balla Lompoa menurut rencana akan dibangun di Afrika Selatan, kata Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia Noel N. Lehoko di Makassar, Rabu (23/2). Pada pertemuannya dengan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang di Makassar, ia mengungkapkan bahwa rencana pembangunan miniatur rumah adat sulsel diafrika tersebut nantinya akan semakin memperkuat ikatan kebudayaan antara kedua wilayah.

Tujuan ke sini adalah untuk menyambung kerja sama yang telah dilakukan dan memperbaharui nota kesepahaman kerja sama yang telah berakhir katanya.

Hubungan Afrika Selatan dan Sulsel telah berlangsung 300 tahun, hubungan ini sangat erat, bahkan sebelumnya ada makam Syeh Yusuf di Afrika Selatan dan telah dipindahkan ke Sulsel, jelasnya. Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang mengatakan, pada kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Afrika Selatan dibicarakan mengenai rencana akan dibangunnya semacam miniatur Balla Lompoa yang akan dijadikan perpustakaan di Cape Town.

Dubes sampaikan juga instruksi mengenai rencana tersebut dari pemerintah pusat dan kami siapkan minatur Balla Lompoa, tinggal kesiapan pemerintah di sana," jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, ada empat fokus kerja sama yang akan dikembangkan yaitu pendidikan, kebudayaan, perdagangan dan pariwisata. "Selama ini baru kunjungan bilateral baru penjajakan dari bisnis ke bisnis, makanya mereka akan ke Kadin juga," ujarnya.

Salah satu peluang kerja sama pariwisata yang mungkin untuk dilakukan adalah paket umrah plus seperti ke Kairo dan Palestina. "Kenapa tidak ada kunjungan ke Afrika Selatan," ujarnya.

Untuk bidang pendidikan, Afrika Selatan juga bisa menjadi pilihan untuk meraih gelar doktor terutama bidang tambang. "Afrika Selatan dengan negara sekitarnya adalah daerah yang memiliki tingkat perekonomian tinggi, jadi sangat terbuka untuk Sulsel masuk, apalagi ada hubungan kultural
Demikianlah Ulasan mengenai sejarah orang makassar di Afrika SUMBER - portalBugis.com Dan  indonesian-etnis.blogspot.com
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
ASAL USUL SUKU TANATORAJA TO TATOR Bugis Makassar asal mula masyarakat toraja konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mayat Berjalan Ditana toraja
Foto Mayat Berjalan Ditana toraja

ASAL USUL SUKU TANATORAJA TO TATOR

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Sejarah Aluk tanatoraja
Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua.

Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi’ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme’ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi’ dirura.Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi’ adalah pembawa aluk Sabda Saratu’ yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “To Unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerahsebelah timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : “To Unnirui’ suku dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”, Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi’ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu’, Parange menuju Buntao’, Pasontik ke Pantilang, Pote’Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma’dandan ke Bala (Mangkendek), Sirrang ke Dangle.

Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
MENGENAL RIWAYAT POPPO DARI SAWITTO Poppo atau ada juga yang menyebutnya Peppo’ menurut kepercayaan orang di tanah bugis adalah sejenis siluman perempuan yang bisa terbang. Ada sebuah kisah tentang poppo yang konon pernah terjadi di sebuah kampung. Suatu hari, Puang Imang bersama semua keluarganya meninggalkan rumahnya karena seorang keluarganya mengadakan pesta pernikahan di daerah lain. Malam harinya, rumah Puang Imang dimasuki oleh poppo yang, sekali lagi, konon ingin mencuri.

MENGENAL RIWAYAT POPPO DARI SAWITTO
MENGENAL RIWAYAT POPPO DARI SAWITTO

MENGENAL RIWAYAT POPPO DARI SAWITTO

Setelah barang-barang yang mau dibawa pergi telah dibungkus dengan sarung, poppo itu tak bisa keluar dari rumah Puang Imang. Katanya, menurut pengakuan poppo itu, ia melihat dirinya dikepung air seperti laut yang tak memiliki pantai.

Setelah Puang Imang kembali, ia menemukan poppo telah berubah wujud menjadi seorang perempuan cantik berambut panjang telanjang berdiri di ruang tengah rumahnya. Ternyata rumah Puang Imang, sebelum ditinggalkan, telah disappo (dipagari) dengan baca-baca (mantera) sehingga poppo itu tak bisa keluar. Poppo itu kemudian diberi sehelai pakaian oleh istri Puang Imang dan dibiarkan pergi. Namun sebelumnya untuk membuat perempuan itu jera, rambut panjangnya dipotong nyaris habis.

"Poppo"

Poppo menurut kepercayaan orang bugis selain dikenal sebagai hantu pencuri juga suka mengisap darah, utamanya perempuan yang sedang melahirkan. Poppo dipercaya juga suka berada di kebun jagung atau kebun di mana banyak buah-buahan. Kesukaan poppo berada di pohon yang berbuah itu kadang digunakan oleh orang (yang berani) di musim mangga berbuah. Poppo yang ‘hinggap’ di cabang pohon mangga akan menjatuhkan buah-buah mangga matang sesuai permintaan sang pemilik.

Tentang parakang, selain suka mengisap anus orang sakit ada beberapa hal menarik lainnya. Jika seorang parakang sedang sekarat menghadapi sakratul maut, ia akan tarus mengulang-ulang kata (l)emba (pindah) sampai ada seorang dari keluarganya yang mengiyakannya. Setelah itu, orang yang mengiyakan itu akan menjadi parakang selanjutnya. Jika menemukan parakang, misalnya dengan wujud pohon pisang, orang dianjurkan untuk memukulnya sekali atau tiga kali saja. Jika sekali pukul dipercaya akan membunuhnya dan tiga kali akan membuatnya cacat. Itulah mengapa perempuan tetangga saya yang pindah itu dianggap parakang karena berjalan seperti orang dengan lutut kesakitan.

Menurut orang-orang, suatu malam, perempuan itu tertangkap basah berwujud kambing dan dipukul dengan potongan kayu dilututnya sebanyak tiga kali. Sejak saat itulah ia berjalan dengan cara yang aneh. Dua hantu itu, parakang dan poppo adalah hantu paling populer di kampung kami. Saking populernya sewaktu saya masih anak-anak Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4 kami plesetkan menjadi poppo, parakang pakkanre pello (poppo, parakang pemakan rektum).
Poppo dan Parakang bagi orang bugis dipercayai adalah semacam hukuman turun temurun akibat kesalahan atau pelanggaran nenek moyangnya sehubungan dengan ilmu hitam yang dipelajarinya di masa lampau, Kampung Bugis Demikianlah ulasan bugis makassar mengenai Mistik Bugis Makassar Poppo
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
Lirik Lagu Bugis Makassar Butta Kalasukangku BUGIS MAKASSAR Semua Tentang Sulawesi Selatan ada Disini temasuk lagu lagu bugis favorit anda salah satu diantaranya adalah lirik in Butta Kalasukangku

Lirik Lagu Bugis Makassar Butta Kalasukangku
Lirik Lagu Bugis Makassar Butta Kalasukangku

Lirik Lagu Bugis Makassar Butta Kalasukangku

Judul Lagu Butta Kalasukangku

Bella tojingmo lampaku ka
Nasimbangi dolanga
Aule ta'lengu tomma
Ri bulu'na butta jawa
manna mamonjo na kamma

Tuliji ku pariati
aule pa'rasangangku
ri butta kalasukangku
tau lolonna na tau rungkana
mala'biri ri pangngadakkang
tau lolonna na tau rungkana
mala'biri ri pangngadakkang

Alusu' ri kana-kana alusu' ri panggaukang
ma'baji ampe adatta ri mangkasara
Demikianlah Persembahan dari Bugis Makassar Mengenai Lirik Lagu Bugis Makassar Butta Kalasukangku
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar Bagi suku Bugis, tepatnya di Kabupaten Wajo dan Soppeng, Sulawesi Selatan, menenun sutra bukan semata pencaharian, melainkan juga cara mereka berkomunikasi dengan para leluhur. Memastikan warisan tersebut tetap lestari dari generasi ke generasi.


Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar


Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar

Dengan baju bodo dan sarung yang berbahan dasar sutera, Sulawesi menjadi penghasil tenun sutra terbesar di Indonesia. Bukan hanya kainnya yang dikenakan untuk busana keseharian, pesta pernikahan, atau pesta adat saja, bahkan busana bagi kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan yang berbahan dasar sutera, saat ini menjadi trend, pengelolaan secara tradisional oleh masyarakat setempat, membuat kain sutra memiliki keistimewaan tersendiri. Harganya pun berfariasi, tergantung dari pewarnaan dan bahannya.

Satu hal yang membedakan tenun sutra dengan tenun lainnya seperti tenun ikat flores atau tenun songket Sumatera. Benang tenun sutra Sulawesi menggunakan benang ulat sutra hasil perkawinan silang ulat sutra China dan ulat sutra Jepang. Dengan perkawinan silang ini, tenun sutra Sulawesi memiliki pesonanya sendiri, halus dan tahan lama.

"Selain benangnya yang dihasilkan dari ulat sutra, para penenun masih mempertahankan proses pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan pewarna tenun dari alam." Kata Wirfa, salah satu staf kehutanan dan pertanian yang menangani persuteraan di kabupaten Soppeng.

Alasan mereka mempertahankan pewarnaan dari bahan alami jauh dari slogan mentereng yang sering dikemukakan kaum urban tentang pelestarian lingkungan. Masyarakat Kampung Sabbangparu, Kabupaten Wajo misalnya, melakukannya karena itulah yang diajarkan leluhur mereka. Masalah pewarnaan alam yang ramah lingkungan itu adalah warisan kebijaksanaan leluhur yang hidup berdampingan dengan alam, karenanya mereka senantiasa membuat tenun ikat dengan segenap hati dan rasa cinta pada alam semesta.

Keistimewaan kain sutra adalah proses pembuatannya. Dari menunggu ulat membuat kokon (rumah larva), kemudian pemintalan benang, pewarnaan hingga tenun, dibutuhkan sedikitnya memakan waktu selama 3 bulan. Ulat Sutra baru mampu membuat kokon setelah berusia 20 hari dan kokon baru dapat di panen setelah berusia 8 hari.

Ulat Sutra Sulawesi banyak dihasilkan di kota Soppeng. Dari kota inilah tenun sutra berasal. Namun, pengrajin kainnya diwarisi oleh warga bugis di Sengkang, Kabupaten Wajo.

Satu kain sarung dikerjalan selama 1-2 minggu tergantung motif kain. Berbeda dengan tenun sutra industri, pengusaha tenun di Sengkang mampu menghasilkan produksi 2-3 juta meter per tahunnya.

Kain tenun sutra Sulawesi tidak hanya dipakai orang Bugis. Masyarakat Indonesia dari kepulauan lain maupun turis mancanegara banyak meminati kain ulat sutra ini. Selain bahannya yang lembut, warna-warni kain sutra yang menjadi ciri khas Sulawesi ini memiliki daya tarik tersendiri. Meski jumlah ekspor Sutera ke luar negeri seperti Jepang, China, dan Malaysia, belum terlalu besar, namun peminat khusus sutera di dari berbagai negara cukup banyak. ini terbukti dengan minta turis mancanegara yang datang berkunjung ke Sulawesi, selalu mencari kain sutera.

Selain itu, batik mislanya, beberapa perancangan ternama juga mulai menawarkan design nyentrik dengan memadupadankan batik dengan kain tenun sutra alami. Batik Solo, Batik Sampang Madura yang terkenal dengan warna-warninya juga mulai menggunakan bahan utama sutra.

Hanya saja, mengingat batik sebagai busana telah menjadi bagian dari mode yang memiliki siklus popularitas, menjadi tantangan bagi perancang menghasilkan juga desain baru busana dari batik untuk mengimbangi terus berkembangnya ragam hias batik-sutra. (Yusuf Ahmad) Sumber fotokita.net Dari ulat Hinggah Menjadi Kain
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang

2012-10-24

Pesona Perkawinan Bugis-Makassar Salah satu bagian terpenting dari kehidupan manusia adalah perkawinan. Dan bagi masyarakat di Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis Makassar dan masyarakat di Indonesia pada umumnya, perkawinan merupakan penyatuan dua keluarga besar dari kedua mempelai. Tak heran jika perkawinan adat Bugis Makassar tidak hanya melibatkan keluarga inti kedua mempelai, tapi juga seluruh keluarga besar sehingga tak jarang jika saudara, kakak dan adik, paman dan bibi, serta para sesepuh ikut terlibat dalam mempersiapkan pernikahan si mempelai.

Pesona Perkawinan Bugis-Makassar


Pesona Perkawinan Bugis-Makassar

Upacara perkawinan di daerah Sulawesi Selatan banyak dipengaruhi oleh ritual-ritual sakral dengan tujuan agar perkawinan berjalan dengan lancar dan kedua mempelai mendapat berkah dari Tuhan. Tata cara upacara pernikahan adat Bugis Makassar melalui berberapa tahapan yaitu:

A'jagang-jagang/Ma'manu-manu
Penyelidikan secara diam-diam oleh pihak calon mempelai pria untuk mengetahui latar belakang pihak calon mempelai wanita.

A'suro/Massuro
Acara ini merupakan acara pinangan secara resmi pihak calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Dahulu, proses meminang bisa dilakukan beberapa fase dan bisa berlangsung berbulan-bulan untuk mencapai kesepakatan.

Appa'nasa/Patenre Ada
Usai acara pinangan, dilakukan appa'nasa/patenre ada yaitu menentukan hari pernikahan. Selain penentuan hari pernikahan, juga disepakati besarnya mas kawin dan uang belanja. Besarnya mas kawin dan uang belanja ditentukan menurut golongan atau strata sosial sang gadis dan kesanggupan pihak keluarga pria.

Appanai Leko Lompo (erang-erang)
Setelah pinangan diterima secara resmi, maka dilakukan pertunangan yang disebut A'bayuang yaitu ketika pihak keluarga lelaki mengantarkan passio/passiko atau Pattere ada (Bugis). Hal ini dianggap sebagai pengikat dan biasanya berupa cincin. Prosesi mengantarkan passio diiringi dengan mengantar daun sirih pinang yang disebut Leko Caddi. Namun karena pertimbangan waktu, sekarang acara ini dilakukan bersamaan dengan acara Patenre Ada atau Appa'nasa.

A'barumbung (mappesau)
Appasili Bunting (Cemme Mapepaccing)
Kegiatan tata upacara ini terdiri dari appasili bunting, a'bubu, dan appakanre bunting. Prosesi appasili bunting ini hampir mirip dengan siraman dalam tradisi pernikahan Jawa. Acara ini dimaksudkan sebagai pembersihan diri lahir dan batin sehingga saat kedua mempelai mengarungi bahtera rumah tangga, mereka akan mendapat perlindungan dari Yang Kuasa dan dihindarkan dari segala macam mara bahaya. Acara ini dilanjutkan dengan Macceko/A'bubu atau mencukur rambut halus di sekitar dahi yang dilakukan oleh Anrong Bunting (penata rias). Tujuannya agar dadasa atau hiasan hitam pada dahi yang dikenakan calon mempelai wanita dapat melekat dengan baik. Setelah usai, dilanjutkan dengan acara Appakanre Bunting atau suapan calon mempelai yang dilakukan oleh anrong bunting dan orang tua calon mempelai. Suapan dari orang tua kepada calon mempelai merupakan simbol bahwa tanggung jawab orang tua kepada si anak sudah berakhir dan dialihkan ke calon suami si calon mempelai wanita.

Akkorongtigi/Mappaci
Upacara ini merupakan ritual pemakaian daun pacar ke tangan si calon mempelai. Daun pacar memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian. Menjelang pernikahan biasanya diadakan malam pacar atau Wenni Mappaci (Bugis) atau Akkorontigi (Makassar) yang artinya malam mensucikan diri dengan meletakan tumbukan daun pacar ke tangan calon mempelai. Orang-orang yang diminta meletakkan daun pacar adalah orang-orang yang punya kedudukan sosial yang baik serta memiliki rumah tangga langgeng dan bahagia. Malam mappaci dilakukan menjelang upacara pernikahan dan diadakan di rumah masing-masing calon mempelai.

Assimorong/Menre'kawing
Acara ini merupakan acara akad nikah dan menjadi puncak dari rangkaian upacara pernikahan adat Bugis-Makassar. Calon mempelai pria diantar ke rumah calon mempelai wanita yang disebut Simorong (Makasar) atau Menre'kawing (Bugis). Di masa sekarang, dilakukan bersamaan dengan prosesi Appanai Leko Lompo (seserahan). Karena dilakukan bersamaan, maka rombongan terdiri dari dua rombongan, yaitu rombongan pembawa Leko Lompo (seserahan) dan rombongan calon mempelai pria bersama keluarga dan undangan.

Appabajikang Bunting
Prosesi ini merupakan prosesi menyatukan kedua mempelai. Setelah akad nikah selesai, mempelai pria diantar ke kamar mempelai wanita. Dalam tradisi Bugis-Makasar, pintu menuju kamar mempelai wanita biasanya terkunci rapat. Kemudian terjadi dialog singkat antara pengantar mempelai pria dengan penjaga pintu kamar mempelai wanita. Setelah mempelai pria diizinkan masuk, kemudian diadakan acara Mappasikarawa (saling menyentuh). Sesudah itu, kedua mempelai bersanding di atas tempat tidur untuk mengikuti beberapa acara seperti pemasangan sarung sebanyak tujuh lembar yang dipandu oleh indo botting (pemandu adat). Hal ini mengandung makna mempelai pria sudah diterima oleh keluarga mempelai wanita.

Alleka bunting (marolla)
Acara ini sering disebut sebagai acara ngunduh mantu. Sehari sesudah pesta pernikahan, mempelai wanita ditemani beberapa orang anggota keluarga diantar ke rumah orang tua mempelai pria. Rombongan ini membawa beberapa hadiah sebagia balasan untuk mempelai pria. Mempelai wanita membawa sarung untuk orang tua mempelai pria dan saudara-saudaranya. Acara ini disebut Makkasiwiang.

Sumber: Naskah Hj. Syarifah Nur Daeng Ngasseng Sanggar Tamalate, Asdinar Tompo, dan buku Tata Cara Adat Perkawinan Bugis Makassar oleh Andi Nurhani Sapada Sumber artikel weddingku.com
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
WISATA KOTA MAKASSAR KOTA ANGING MAMMIRI Makassar – siapa yang tak kenal kota makassar? kota yang memiliki julukan kota anging mamiri ini memiliki segudang catatan sejarah dan wisata kuliner yang menggugah selera, sebut saja es pisang ijo hingga coto makassar!

WISATA KOTA MAKASSAR KOTA ANGING MAMMIRI

WISATA KOTA MAKASSAR KOTA ANGING MAMMIRI


Sejarah kota Makassar berawal di muara Sungai Tallo, sehingga kota ini terkenal dengan pelabuhan niaganya, tempat perdagangan rempah-rempah. Namun sejalan dengan waktu, terjadi pendangkalan Sungai Tallo yang membuat muaranya dipindahkan ke Sungai Jeneberang can selanjutnya menjadi pusat kegiatan kota Makassar hingga saat ini.

Berbagai peninggalan situs sejarah menjadi saksi bisu yang menggambarkan betapa Kota Makassar sangat berjaya pada masa kolonial, baik lalu lintas perdagangannya, pelayaran, maupun pemerintahan.
Berikut beberapa Wisata Kota Makassar yang dapat dikunjungi :

Benteng Fort Rotterdam
Tahun 1546, dibangunlah sebuah benteng oleh Raja Gowa ke-X di “ujung” wilayah pulau yang ditumbuhi danyak pohon “pandan” (kata pandan dilafalkan oleh Orang Makassar menjadi pandang), sehingga benteng tersebut dikenal dengan sebutan “Benteng Ujung Pandang”. Benteng ini memiliki keunikan dalam bentuk, yaitu apabila dilihat dari udara, akan menyerupai “penyu raksasa” yang sedang merayap ke Selat Makassar. Pada masa Kerajaan Gowa, dangunan ini memiliki fungsi hanya sebagai benteng pertahanan. Setelah Dangsa Belanda mengambil alih Benteng Ujung Pandang, melalui perjanjian Bungaya dengan Raja Gowa, benteng ini pun beralih fungsi tidak hanya sebagai benteng pertahanan, namun juga menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian. Benteng ini kemudian diubah namanya oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman menjadi Fort Rotterdam

Tak hanya sampai di situ saja, keunikan lain di dalam benteng ini adalah terdapat penggalan kitab sastra terpanjang di dunia yang dikenal dengan I La Galigo. Naskah tua ini disimpan di dalam Museum La Galigo. Kitab tersebut merupakan kumpulan karya sastra dan catatan hasil kebudayaan yang ditulis secara turun temurun dalam bahasa Lontarakan.

Benteng Sombu Opu
Selain Benteng Fort Roterdam, ada satu lagi benteng yang juga merupakan saksi sejarah kebesaran Kerajaan Gowa Benteng Somba Opu didirikan pada pertengahan abad ke-16 dan merupakan benteng utama kerajaan Gowa. Pemdangunan benteng ini terus berkemdang pesat sejalan dengan berkembengnya. Pelabuhan Somba Opu yang merupakan lokasi yang strategis. Benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Sangat disayangkan, setelah dikuasai oleh VOC benteng ini kemudian dihancurkan dan terendam oleh ombak pasang.

Somba Opu memiliki keunikan, yaitu didangun dengan mengunakan bata merah dan putih telur sebagai perekat pengganti semen. Di dalam benteng, terdapat bangunan rumah adat Sulawesi Selatan seperti rumah adat dari Suku Bugis, Makassar, Mandar dan Kajang. Terdapat sebuah meriam yang disebut “Baluwarang Agung” dengan panjang 9 meter dan berat 9.500 kg yang merupakan saksi sejarah bahwa bangunan ini adalah benteng yang memiliki pertahanan yang sangat baik. Benteng ini juga dilengkapi sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peningalan kesultanan Kerajaan Gowa.

Pantai Losari
Wisata Kota Makassar, Kota Anging MamiriRasanya belum lengkap jalan-jalan ke Kota Makassar bila berkunjung ke Pantai Losari. Pantai dengan keindahan pemandangan matahari terbit dan terbenamnya ini, tertelak dibagian barat dan merupakan jantung Kota Makassar, adalah salah satu tujuan wisata utama di Kota Anging Mamiri. Sambil menikmati keindahan panorama matahari terbenam di pinggiran pantai, diiringi desiran anging mamiri yang berhembus lembut, pengunjung pun dapat menikmati masakan khas Makassar yaitu Pisang Epe dan ikan bakar yang masih terjaga kesegarannya.

Pada bagian selatan Pantai Losari terdapat sebuah anjungan dan sebuah kapal tradisional Bugis-Makassar yaitu “Phinisi” yang dijadikan restoran terapung dengan menu hidangan aneka makanan laut.

Kuliner Khas Makassar
Menikmati kulinernya, membuat kembali kepada kenangan sejarah Makassar yang merupakan kota pelabuhan tempat persinggahan bagi para pedagang dari Eropa, Cina, dan Arab sehingga mempengaruhi cita rasa makanan Makassar. Hal ini terjadi karena adanya perpaduan kultur budaya Eropa, Cina, dan Arab dengan suku-suku setempat. Jangan ditanya bagaimana cita rasa masakannya! Kuliner khas Makassar memiliki rasa yang unik dan berbeda dengan masakan Nusantara lainnya, karena kaya akan rasa, namun dapat dinikmati dan lekat dengan lidah semua orang.sop konro 300x300 Wisata Kota Makassar, Kota Anging Mamiri

Sebut saja Coto Makassar, yang merupakan makanan rakyat pada umumnya, namun menjadi hidangan utama istana pada jaman Kerajaan Gowa. Pengaruh makanan cina terlihat dalam penyajian Coto Makassar yang selalu disandingkan dengan sambal ‘Tao-Co’, yang telah masuk ke wilayah Makassar pada abad ke-16. Jangan Pupa untuk mencoba Pallu Basa, makanan yang terdiri dari daging pipi sapi lembut dan potongan jeroan yang disiram dengan kuah santan kental berwarna coklat dan sarat akan rempah-rempah, serta disajikan dengan kuning telur dan serbuk kelapa sangrai. Sudah pasti aromanya membuat lidah tak sabar untuk mencodanya.

Konro Bakar yang sudah danyak dikenal masyarakat luas menjadi salah satu menu andalan yang patut dicoba. Menikmati iga sapi bakar dengan bumbu kacang ini, membuat pengalaman kuliner menjadi bertambah kaya. Bagi Anda yang tidak menyukai iga bakar, konrojuga tersedia dalam pilihan sop.

Untuk mengakhiri perjalanan wisata sejarah dan kulier Kota Makassar, Es Pisang Ijo dapat menjadi pilihan sebagai hidangan penutup. Panasnya kota Makassar akan sirna oleh sejuknya pisang yang disiram dengan sirup dan santan kental serta es serut ini.

Demikian sekilas tentang Wisata Kota Makassar yang mungkin bisa menjadi referensi jika anda ke Makassar.

Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang
SEJARAH LENGKAP ORANG BUGIS MAKASSAR Orang-orang Bugis-Makassar adalah warga Sulawesi Selatan (Sulawesi) meliputi wilayah sekitar 100,457 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 5.600.000. Ini orang terkenal ahli dalam berlayar di laut dalam. Sebagai seorang pelaut mereka telah tersebar di banyak daerah di Indonesia, seperti Sumatera Utara, Malaysia, Kalimantan, Jawa, Bali, Maluku, Sumbawa, dan Flores Barat.



SEJARAH LENGKAP ORANG BUGIS MAKASSAR

Wajah Bugis Makassar

SEJARAH LENGKAP ORANG BUGIS MAKASSAR

Makassar adalah nama mengacu pada kerajaan di Sulawesi Selatan yang selama abad ke-17 adalah yang terbesar setelah bersatu dengan Kerajaan Bone, pada pantai timur Sulawesi Selatan. Ukuran Sulawesi Selatan adalah 100,457 km persegi termasuk pulau Selayar, Tanah Jampea, Kalao, Bonerate, dan Tanakeke. Studi antropologi mengatakan bahwa orang-orang dari Sulawesi Selatan adalah Bugis, meskipun didasarkan pada dialek dapat dikelompokkan lagi ke dalam Bugis itu sendiri, Makassar, Toraja, Mandar, dan Duri. Fakta bahwa orang-orang berbicara kelompok dialek Bugis adalah jumlah terbesar. Orang-orang berbicara dialek Makassar kini penduduk kota Makassar, yang dikenal juga sebagai kota Ujung Pandang, selatan timur ujung selatan Sulawesi dan pulau Selayar.

Dialek Mandar ditemukan di utara pantai barat Sulawesi Selatan pada daerah Majene utara sampai ke Mamuju. Sedangkan dialek nomor Duri sangat kecil tetangga dengan orang-orang Toraja. Karena luas dari Sulawesi Selatan diyakini bahwa selama sejarah budaya Bugis mengalami beberapa perubahan pada beberapa tempat atau dikenal sebagai beberapa transformasi, jadi kita sekarang tahu beberapa jenis kebudayaan dan anak dialek daerah. Meskipun ia adalah orang Bugis judul kita di sini membahas secara umum tentang etnis masih dalam kelompok selatan Sulawesi. Makassar adalah kerajaan berkembang dari kerajaan Bugis di abad ke-17 dan mungkin sebelumnya ketika pengaruh Hindu mencapai wilayah tersebut. Sementara orang Toraja dan budaya akan diperlakukan secara terpisah karena bangsa ini seolah-olah mereka memiliki budaya mereka sendiri dikenal di seluruh dunia. Catatan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1969 menyebutkan bahwa jumlah orang diperkirakan 5.643.067.

ORANG BUGIS MAKASSAR

Wajah Pribumi Bugis Makassar dan VOC

Studi Linguistik oleh BF Matthes menemukan bahwa kuno Sulawwesi selatan telah menulis tradisi menggunakan tulisan India, di kedua Bugis yang menggunakan bahasa yang disebut Ugi, dan Makassar menggunakan bahasa yang disebut Mangsara. Hal ini diawetkan pada daun lontar atau kertas. Penulisan ini dikenal sebagai aksara-lontara. Aksara adalah bahasa Sansekerta kata untuk alfabet, dan Lontara adalah daun palem. Pada pergantian abad ke-17 abad Islam mulai memasuki Sulawesi Selatan dari Pulau Seram di Ambon. Juga tulisan diubah menjadi Arab yang disebut Huruf Serang (mungkin dari kata "Seram"). Banyak warisan literatur Bugis dapat disebutkan seperti koleksi besar mitos Bugis disebut Galigo Tentu, Paseng disebut etnis, keputusan pemimpin 'disebut Rapang, dan lain-lain. Mulai kedatangan Islam di abad ke-17 dan kedatangan militer VOC Belanda situasi Sulawesi Selatan dikatakan tidak pernah dalam damai. Antara kerajaan yang ada adalah konflik berdarah, dan tertindas militer VOC mereka sangat keras, menyebabkan banyak dari mereka meninggalkan tanah mereka dan tinggal di daerah lain di Indonesia. Hari ini kita dapat menemukan orang-orang Bugis di setiap bagian dari Indonesia yang masih melestarikan tradisi mereka, meski sudah mengikuti Islam.

Di masa lalu pola pemukiman mereka dipusatkan pada tempat suci dengan pohon beringin besar yang disebut "POSSI tana" tertutup oleh antara 10 sampai 200 rumah. Sebuah penyelesaian dipimpin oleh seorang Matoa atau Jannang, atau Lompo, atau Toddo, dibantu oleh 2 orang, Sariang atau Parennung. Sebuah unit dari beberapa pemukiman disebut Wanua adalah Bugis dan Pa'rasangan atau bori di Makassar. Dari sini kita menulis nama sebagai berikut Bugis / Makassar hanya untuk membuat pendek. Kepala Wanua adalah Arung Palili atau Sullewatang / Karaeng. Setelah kemerdekaan Wanua adalah posisi Kecamatan administrasi.

Bentuk rumah Bugis dan makassar memiliki gaya yang sama, kecuali Toraja yang sangat unik yang dibahas pada khusus bagi orang-orang Toraja. Rumah ini dibangun di atas tiang-tiang, ruang atas di bawah atap adalah untuk menempatkan beras, disebut rakkeang / pammakkang, ruang untuk hidup disebut ale bola / balle Bolla, sementara ruang di bawah lantai yang disebut awasao / passiringgang, untuk menempatkan alat-alat pertanian, kandang ayam dan lainnya. Berdasarkan status sosial dapat dibagi menjadi 3 rumah, sao raja / balla atau lompo adalah rumah besar keluarga bangsawan, biasanya memiliki langkah-langkah dengan basis storyed, dan atap dengan 3 tingkat. Sao piti / tanarata adalah rumah kecil tanpa atap, bola / balla umum orang rumah. Untuk membangun rumah seorang ahli tradisi yang disebut Panrita bola membuat ritual untuk memilih tempat di mana rumah akan dibangun. Beberapa kali kerbau kepala dimakamkan sebagai ritual untuk menghindari nasib buruk yang mungkin dihadapi rumah.

Sistem tradisional masyarakat Bugis memperkenalkan strata sosial seperti kelompok orang kerajaan atau mulia disebut Anakarung / Anakaraeng, orang umum orang independen yang disebut dengan maradeka / tu maradeka. Kelompok ketiga adalah ata berarti budak yang diyakini hanya muncul jauh di kemudian hari di Bugis - Makassar masyarakat. Hari judul bangsawan seperti Karaenta, Puatta, Andi dan Daeng masih digunakan tetapi tidak banyak berarti di masyarakat. Hari ini lapisan sosial tidak terlihat lagi berpacu dengan orientasi perubahan kehidupan manusia, seperti halnya pasangan pernikahan yang ideal dari orang-orang yang antara tingkat ketiga dari hubungan keluarga dan jumlah besar biaya doory dan pernikahan, sekarang berubah sudah. Pernikahan antara anak-anak grand saudara / saudari tidak selalu mulus, beberapa kali juga menghadapi keberatan. Jika keberatan berasal dari keluarga wanita kadang-kadang pria menculik wanita dan bulan bersembunyi di tempat tertentu dan mencari perlindungan kepada orang-orang terkemuka, yang sering bisa menggunakan kekuasaannya untuk membuang kemarahan dari keluarga perempuan.

Orang-orang Bugis adalah orang taat kepada tradisi asli mereka meskipun mereka yang sudah tinggal di luar Sulawesi Selatan. Tradisi suci mereka disebut panngaderreng / panngadakkang. Tradisi ini didasarkan pada unsur-unsur yaitu (1) Ade / ADA etika perkawinan,, hubungan kekerabatan generasi, di antara kerabat, dan etika pada politik. (2) Bicara adalah prosedur proses hukum dan penilaian, (3) Rapang dapat dikatakan sebagai sampel, analogi, atau metafora dari peristiwa masa lalu untuk digunakan sebagai refleksi dari kehidupan. (4) Wari, etika klasifikasi pada objek dan masalah-masalah sosial, (5) Sara, organisasi sosial dan aturan Islam.

Kepercayaan Asli dari Bugis seperti yang disebutkan pada Sure 'Galigo adalah dewa Patoto-e memegang nasib manusia, dewa Seuwa-e dewa tunggal, Tuie a' rana keinginan tertinggi. Dengan kedatangan Islam kepercayaan asli telah berubah menjadi syari'ah, terutama dengan upaya intensif Muhammadiyah untuk memurnikan Islam di Sulawesi Selatan. Para pemurnian mungkin untuk menjadikan Islam seperti di Timur Tengah, dan meninggalkan roh tradisional seperti penghormatan kepada tempat tertentu, penghormatan kepada leluhur, sehubungan dengan alam secara umum. Tapi semangat terkenal "siri" masih dijahit di setiap jantung Bugis / Makassar winch bebas dapat diterjemahkan ke dalam martabat diri non negotiable. Beberapa ahli mengatakan ini bukan hanya diri sendiri, tapi kelompok dan dapat sampai pada tindakan fatal seperti pembunuhan.

Orang Bugis terkenal dengan kerajinan mereka membuat kapal kayu phinisi dapat digunakan untuk berlayar di laut dalam. Sebagai produsen kapal kayu mereka juga profesional pada berlayar ke laut apapun, bahkan tercatat bahwa pada begriming Australia dijajah oleh Inggris, hubungan antara Australia Utara dan Indonesia adalah sering sampai pelaut Inggris Indonesia dilarang untuk menelepon di tanah wilayah utara. disadur dari Google Terjemahan Sumber balitouring.com


Rating Artikel : 5
Jumlah Voting : 99 Orang
Design by Premiumbloggertemplates Diubah Oleh Anak Bugis Makassar | Kontak | Privacy Policy | Disclaimer